Showing posts with label Musim Matahari. Show all posts
Showing posts with label Musim Matahari. Show all posts

Wednesday, January 16, 2013

Past Stories, Old and Enduring

I can only pray for you. 
Pray every time I prostrated. 
Suppose that I have a second chance to live, 
I'm just going to fight for you to to be a Sun of my life.
 Honestly I miss you, frankly I'm waiting for you. 
Because you have a peaceful soul in my sight. 
Even now, I'm not with you, 
I will pray for you in the best prayer. 
You are the secret of my life. 

Friday, March 09, 2012

My Soul In Sunset


Seakan lagu yang kau teriakkan adalah derma yang tak dapat dihargakan dengan jenis logam apapun.  Batinku tak henti berdoa agar aku suatu saat bisa menyambutmu dengan jabatan serta pelukan sehangat mungkin, sama seperti kesetiaan bayangan yang menemanimu setiap waktu.
Bukankah kita pernah bermain di pantai, ingat ? kita menggali pasir dan menjadikannya bukit dan kau tuliskan nama kita di sana kemudian kita abadikan dengan sebuah foto. Aku juga mengingat ketika sebatang bambu panjang hanyut ke arah ku yang sedang menyusuri pantai senja, seketika itu kau bergegas mengambil bambu itu dan menjauhkannya dariku. Dan kau kembali ke permainan bola pantai. Sedang aku terdiam. Semua kebaikanmu tak akan menjadi abu dalam ingatanku. Perhatian dan sikap pedulimu akan selalu tergaris sebagai tinta abadi dalam memoriku.
Bukankah kita pernah menjadi panitia dalam suatu acara. Apa kau tau di tengah kesibukanku melancarkan acara, aku tak lekang memperhatikanmu yang juga tak kalah sibuknya. Dan aku tertegun ketika ditengah kesibukan itu kau mengingatkanku untuk makan siang. Hingga petang itu acara berakhir, kau memintaku untuk pulang, sementara aku masih menyusun perangkat yang terserak. Entah kenapa aku menyesal tak menurutinya, kau pulang dengan si Hitam, Kuda besi besar. Meski bagimu itu hanya perlakuan-perlakuan biasa, tapi aku bisa merasakannya sebagai kebaikan yang amat istimewa. Dan terbukti karena aku telah menuliskannya. Kebaikan yang akan selalu ku ceritakan kepada orang-orang Sebagai sebuah teladan.
Bukankah sangat banyak hari istimewa yang pernah kita lalui. Sampai datangnya Hari itu, aku amat terpukul. Aku tak sanggup lagi menahan tamparan keras di hatiku setiap kali bertemu dan berbicara denganmu. Tamparan yang menyuruhku untuk secepatnya bilang bahwa kau adalah orang istimewa di hatiku. Bahwa kau adalah matahari kedua dalam hidupku yang dianugerahkan tuhan.  Aku hanya berani menuliskannya sebagai sebuah pesan di akunmu. Tapi ternyata itu membawa masalah, tak begitu lama aku menyatakan itu semua, seorang wanita menyerangku dengan kata-katanya dalam sebuah tulisan. Aku diharuskan untuk menjauhimu. Aku meminta izin untuk tetap mencintaimu, bahkan hanya mencintaimu tanpa meminta tepukan sebelah tanganmu sebagai balasan. tapi itu dibantah keras oleh wanita itu, aku tetap kalah. Aku menangis. Kau tetap baik padaku, bahkan tak sedikitpun menganggapku berbeda dari sebelumnya. Kau sama, kau bijak. Kau tak membuatku menjadi orang yang memalukan. Meski aku harusnya malu,
Tahun-tahun berlalu menyampaikan barisan sejarah. Hingga sekarang, tepatnya tiga tahun lamanya aku tak pernah lelah untuk tiap kali berdoa agar rasa yang istimewa ini menjadi alamat yang indah untuk hidupku. 

Saturday, February 11, 2012

Pemuda Jawa Terkesan dengan Aksen Melayu

Pertemuan singkat petang tadi memancing hasratku untuk menuliskannya di sebuah media. Ku pilih blog ini sebagai media utama ku. Kurang lebih setengah empat sore aku di telepon oleh Mul ketua Karang Karuna. Ia meminta ku untuk datang kerumahnya karena ada proposal yang harus di tanda tangani oleh sekretaris. 
Setiba di rumah Mul, aku tidak langsung masuk, aku melihat ada tamu, ku pikir tamu penting, jadi aku urung masuk. Aku langsung duduk di samping pelataran. Aku pun juga sudah terbiasa di rumah itu, mereka dulu juga adalah tetangga dekat sewaktu kecil. Dan sekarang kami sama-sama pindah, karena rumah yang kami dan mereka tinggali adalah rumah Dinas setempat, namun rumah kami masih tetap satu desa dan juga tidak terlalu jauh. 
Sembari menunggu aku mengobrol dengan Nandani sepupu Mul. Tak berapa lama, Mul memanggilku untuk masuk ke dalam. Sebelum duduk aku menyalami satu persatu tamu yang juga hadir, mereka menyambutku ramah. Aku duduk di kursi khusus tamu yang dekat dengan pintu. Di sampingku ada seorang pemuda jawa yang pernah ku lihat sewaktu menghadiri acara di rumah Kepala Desa. Menurut cerita ibuku, memang ada tiga remaja yang berasal dari jawa di kontrak untuk mengabdikan diri di desa kami. Mengabdikan dalam arti melakukan apa-apa saja kebutuhan penduduk yang belum sempat terpenuhi. Aku belum tahu jelas seperti apa tugas mereka. Beberapa hal yang ku ketahui, mereka terdiri dari dua remaja laki laki dan satu remaja perempuan. Mereka tinggal di kantor balai desa. Salah satunya yang sekarang sedang di hadapanku. 
Kembali ke lokasi di rumah Mul. Aku langsung di perlihatkan 2 unit proposal dan dua lembar surat permohonan yang harus ku tanda tangan, setelah ku baca dan ku tanda tangan ku berikan kepada pemuda jawa di sebelahku. 
Setelah itu kami mengobrol, pemuda itu tampak penasaran dan banyak bertanya kepadaku. Yang paling sering ia tanyakan adalah lokasi, termasuk lokasi rumah dan kampusku. Ku rasa sangat wajar karena ia adalah pendatang baru di desa ku, bahkan di Kalimantan ini. 
Di sela-sela obrolah kami, pemuda yang bernama Imam itu mengomentari ku karena logat melayuku yang amat khas, kemudian dia bertanya tentang asal suku. Tak segan untukku menjawab bahwa aku berasal dari suku bugis. Dan pembicaraan kami beralih ke topik suku bugis yang dominan di desa kami. 
Obrolah panjang kami ternyata menguak perhatian Imam dengan bahasa ku yang ia bilang mirip dengan bahasa malaysia. Ia memancingku dengan tanya, mungkin ia sangat penasaran dengan bahasa melayu yang sangat khas dariku. Aku memang lebih suka berbahasa melayu meskipun dihadapan orang yang berbeda suku kecuali di saat formal. 
Akhirnya kami lebih banyak mengobrol tentang bahasa dan kosakata termasuk bahasa bugis. Dia menerangkan satu kosa kata bugis yang ia tahu adalah Mandre yang ia sebut dengan Menrei disertai dengan logat jawa khasnya. 
Menurutku sangat menarik jika ada seorang pemuda jawa yang tertarik dengan bahasa melayu. Di sini ia sangat menunjukan bahwa Indonesia meskipun dalam perbedaan masing-masing mempunyai banyak keunikan-keunikan termasuk dari segi bahasa yang merupakan kekayaan Indonesia. 

Wednesday, August 17, 2011

KACANG KUPAS

Kenapa ya setiap kali Fallin’ in love, selalu sama pacar orang. Sejak aku SMA kelas tiga sampailah sekarang. Apa itu kutukan ? ah,, tidak mungkin, tidak mungkin.

Berkali-kali Fallin’ in love, berkali-kali juga hancur. Sampai kapan? Sebab tak ada yang menduga kapan rasa itu datang dan kepada siapa.

Kali ini, Seseorang yang dulunya kusebut matahari, lagi-lagi mematahkan hatiku. Sampai remuk jantungku. Musti di ronsen. Sekarang ia ku sebut kacang kupas, sejak ia mengundurkan diri jadi matahariku, Ia tak mau menyinariku, Bahkan sekedar mencampakkan cahaya dari celah kecil tempatku bersembunyi, itu tak bisa karena pacarnya. Hikss… sedih ya.. !!

Tiap kali aku berlutut dan sujud, aku berdoa suatu saat dia bisa cinta padaku. Tapi aku tetap berusaha agar rasa cintaku terhadap makhluk tuhan itu, tak melebihi cintaku kepada sang pencipta. Amin.

Apa yang terjadi dengan hatiku. Sehingga sebegetu rapuhnya ketika menemukanmu. Kau bahkan tak lagi menggubrisku. Apa yang terjadi denganku. Kenapa begitu lemah ketika menatapmu. Kenapa begitu hancur ketika aku tak lagi bisa mendapatkan sedikit hangatmu.

Apa kamu tak tau, rasanya hatiku saat berhadapan denganmu. Apa kamu tak tau rasanya jadi aku.


Dear Matahariku di telaga suci
Punggur 17 Agustus 2011

Assalamualaikum..
Hai, apa kabar?
Semoga Abek di sana selalu dalam lindungan Allah SWT. Mungkin surat atau tulisan ini tidak bertepatan dengan valentine atau peringatan lainnya. Tapi karena Ca’i tak pernah merayakan valentine, jadi boleh donk nulis surat kasih sayang dalam moment apa saja. Karena hari ini bertepatan dengan hari kemerdekaan, jadi ca’i ucapkan Happy independent day untuk kita semua.

Dengan surat ini Ca’i pengen mengingat masa-masa indah yang pernah Ca’i lalui bersama Abek. Atau mungkin setidaknya kita sebut masa-masa damai Ca’i bersama Abek.

Abek, Ingat tidak waktu kita menjadi host bersama di acara karoke di desa. Hal yang paling Ca’i ingat adalah ketika abek menyanyi lipsinc dibelakang panggung lengkap dengan gaya kocak dan Ca’i berpura-pura menjadi model wanitanya. Serta waktu Abek menyanyikan lagu dangdut untuk Ca’i dibelakang panggung dan Ca’i langsung berpura-pura tidur di atas kursi. Waktu itu Abek tampak marah, tapi beberapa detik setelahnya Abek tertawa terbahak. Melihat Abek tertawa, rasanya tak ada hal lain yang lebih membuat Ca’i merasa hangat.

Tahun ini adalah tahun kedua sejak Ca’i menyimpan perasaan untuk Abek. Bulan puasa tahun lalu kita sempat berbuka puasa bersama dan Alhamdulillah puasa tahun ini kita sudah dua kali makan bersama. Meskipun dengan teman-teman yang lain. Tapi moment itu sangat berharga buat Ca’i. Ketika kita bisa duduk di satu ruang yang penuh tawa renyah meski kita hanya saling menatap ragu. Seperti tadi sore. Saat matahari terbenam tapi Ca’i masih bisa lihat matahari. Saat itulah yang selalu Ca’i nantikan. Ingin sekali merasakan lagi kehangatan abek seperti dulu. Sebelum kita ditempa masalah.

Abek, Ca’i ingin sekali menunggu Allah membukakan hati Abek untuk Ca’i. Apa itu dosa ?

Sekian surat Ca’i yang sederhana ini. Semoga bisa menjadi sejarah esok hari.
Wassalamu’alaikum.

Friday, July 15, 2011

Merindukan Matahari

Pagi yang kusam. Sebuah pagi, di mana separuh semangat menghilang. Pagi yang hanya menyuguhkan separuh hangat dari matahari. Matahariku entah apa yang dilakukannya sekarang. Aku merindukannya.
Apa aku sedih ? Tidak.. aku hanya benci dengan diriku, aku benci aku. Sekarang ini aku membenci semua yang ku lakukan. Kali ini aku benar-benar diuji.

Matahari .. kau tau ? Aku merindukanmu..